Ketik Yang Ingin Dicari

/
By On

 Siti Walidah lahir di Yogyakarta pada tahun 1872 M. Nama kecilnya adalah Siti Walidah Binti Kiai Penghulu Haji Ibrahin bin Kiai Muhammad Hasan Pengkol bin Kiai Muhammad Ali Ngraden Pengkol. Ia merupakan putri dari pasangan Kiai Penghulu Muhammad Fadhil dan Nyai Mas. Siti Walidah merupakan anak ke-4 dari 7 bersaudara. Siti Walidah dibesarkan dalam lingkungan yang kental akan agama. Dimasanya perempuan tidak diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan formal, dan hanya diperbolehkan untuk belajar agama. Meskipun besar di kalangan para Ulama, Siti Walidah hanya memperoleh pendidikan dari kedua orang tuanya, dimana beliau diajarkan mengenai berbagai aspek mengenai Islam termasuk bahasa Arab dan al-Qur’an. Sejak belia kemampuan berdakhwahnya sudah mulai diasah, sehingga beliau dipercaya oleh ayahnya untuk memantu mengajar di langgar Kiai Fadhil (Dian Ardiyani, 2018: 14).

Pada masa Siti Walidah, pendidikan bagi perempuan dipandang menjadi hal yang tabu. Kaum perempuan tidak diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan yang tinggi, mereka hanya diperbolehkan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah saja. Di masa itu, perempuan yang berhak memperoleh pendidikan hanyalah mereka yang berasal dari golongan bangsawan dan kaum ningrat, itupun jenjang pendidikannya dibatasi yakni hanya sampai pendidikan dasar saja. Budaya patriarki masih mengakar kuat dimana menganggap perempuan hanya sebagai pelengkap kaum laki-laki dan merupakan kaum yang lemah. Kondisi tersebut didukung dengan melekatnya pemikiran bahwa perempuan kodratnya adalah untuk mengurus keperluan rumah tangga saja sehingga tidak memerlukan pendidikan. Hal tersebut sangatlah bertentangan dengan pemikiran Siti Walidah yang menganggap bahwa perempuat tidak hanya sekedar pelengkap bagi kaum laki-laki saja, akan tetapi perempuan merupakann pengerak kemajuan keluarga, bangsa dan juga negara.

Siti Walidah sendiri merupakan sosok yang dikenal sebagai pelopor organisasi Aisyiyah. Dimana kegiatan utama dari organisasi ini adalah memajukan pendidikan dan keagamaan untuk kaum perempuan, memelihara anak yatim piatu, serta menanamkan rasa kebangsaan lewat kegiatan organisasi agar kaum wanita bisa berperan aktif dalam pergerakan nasional. Siti Walidah termasuk ke dalam orang yang berhasil dalam usahanya dalam meningkatkan pendidikan yang tidak hanya berupa teori saja, akan tetapi dibuktikan dengan kenyataan. Keberhasilan Siti Walidah diantaranya adalah diselenggarakannya asrama untuk putri-putri dari berbagai kalangan di Indonesia untuk mendapatkan pendikan yang baik. Orang tua dari mereka dengan sepenuh hati mempercayakan pendidikan putrinya kepada Siti Walidah.

Pemikiran Siti Walidah mengenai pendidikan dikenal dengan konsep “catur pusat”. Konsep Catur Pusat merupakan suatu formula pendidikan yang mempersatukan empat komponen yakni: pendidikan di lingkungan keluarga, pendidikan di dalam lingkungan sekolah, pendidikan di dalam lingkungan masyarakat serta pendidikan di dalam lingkungan tempat ibadah. Catur Pusat adalah satu kesatuan organik, yang apabila dilakukan dengan konsisten dapat membentuk kepribadian yang utuh. Gagasan itu kemudian diwujudkan dalam bentuk sekolah. Mula-mula Siti Walidah mendirikan Madrasah Ibtidhaiyah Diniyah Islamiyah di tahun 1912 dengan menerapkan sistem pembelajaran model Belanda. Pada awalnya terobosan ini mendapatkan respon dukungan dan penolakan di kalangan masyarakat kampung kauman dan di kalangan kaum Muslim (Halimarussa’diyah Nasution, dkk., 2017: 132). Kelompok yang mendukung terhadap terobosan ini berpendapat bahwa model pendidikan seperti itulah yang akan diterima oleh masyarakat dikarenakan pada hakikatnya dengan melakukan modernisasi pada model pendidikan islam dari sistem pondok pesantren dengan pendekatan tradisional menjadi modern, namun dengan tetap mempertahankan ciri khas pelajaran dan pendidikan Islamnya.

Kiprah Siti Walidah dalam memperjuangkan pendidikan perempuan di Indonesia dapat dilihat dari beberapa tindakan nyata yang pernah beliau lakukan seperti, menyelenggarakan asrama untuk putri-putri  di berbagai daerah agar mereka lebih mudah untuk mendapatkan pendidikan, Siti Walidah juga ikut mempelopori pemberatasan buta huruf bagi orang-orang yang telah berusia lanjut, Beliau juga menyelenggarakan rumah anak yatim dan anak orang miskin, dan Siti Walidah juga menjadi pelopor dari berdirinya TK ABA di Indonesia yang sampai sekarang masih terus berdiri dan berkembang.

 

Sumber Referensi:

Ainiyah, Q. (2017). Urgensi pendidikan perempuan dalam menghadapi masyarakat modern. Halaqa: Islamic Education Journal1(2), 97-109.

Alfiyanti, Dina. 2012. Mengenal Pahlawan Nasional Jilid 1. Erlangga Group.

Ardiyani, D. (2018). Konsep Pendidikan Perempuan Siti Walidah. Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah, 15(1), 12-20.

Daliman, A. (2012). Metode penelitian sejarah. Penerbit Ombak.

Junus Salam, “KH. Ahmad Dahlan: Amal dan Perjuangan”, Jakarta, Depot Pengajaran Muhammadiyah, 1968.

Makmur, D., Suryo Haryono, P., & Musa, S. (1993). Sejarah pendidikan di Indonesia zaman penjajahan. Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Mardiah, N. I., Luthfiyah, L., Sadat, A., Ihlas, I., Ramadhan, S., & Kusumawati, Y. (2022). ANALISIS PERGERAKAN PENDIDIKAN PEREMPUAN SERTA KIPRAH SITI WALIDAH DI AISYIYAH. TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, 6(1), 60-75.

Nasution, H. D., Nahar, S., & Sinaga, A. I. (2019). Studi Analisis Pemikiran Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) Dalam Pendidikan Perempuan. Ihya al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Arab, 5(2), 130-139.

Ranadirdja, Bisyron Ahmadi. 1980. Cikal Bakal Sekolah Muhammaadiyah (yogyakarta: Badan Pembantu Pelaksana Pembantu Pendidikan Pawiyatan Wanita Sekolah Dasar Muhammadiyah Kauman Yogyakarta).

Setianingsih, S., Syaharuddin, S., Sriwati, S., Subroto, W., Rochgiyanti, R., & Mardiyani, F. (2021). Aisyiyah: Peran dan Dinamikanya dalam Pengembangan Pendidikan Anak di Banjarmasin Hingga Tahun 2014. PAKIS (Publikasi Berkala Pendidikan Ilmu Sosial), 1(1).

Umar, Umar, Husnatul Mahmudah, and Mei Indra Jayanti. “Peran Nasyiatul Aisyiyah Dalam Wacana Gender Dan Pendidikan Profetik Bagi Perempuan Di Bima.” Kafa`ah: Journal of Gender Studies 11, no. 1 (June 29, 2021): 15.

Wati, I. S., & Agustono, R. (2017). Peran Siti Walidah Dibidang Pendidikan Dan Sosial Dalam Perkembangan Aisyiyah Tahun 1917-1946. SWARNADWIPA, 1(2).

0 comments