Ketik Yang Ingin Dicari

By On
Penulis: Raymizard Alifian Firmansyah
Editor: Muhammad Fachrul R.
Supremasi kekuasaan sudah sejak lama terjadi di Nusantara.
Sejarah panjang suatu negeri, tak dapat dipisahkan dengan yang namanya suksesi atau pergantian takhta. Di dalam konsep tradisional Jawa, pergantian kekuasaan selalu identik dengan wahyu kerajaan (wahyu keprabon) dan keturunan. Dengan kata lain, seseorang dapat menjadi Raja ketika mendapat wahyu atau memang dia seorang keturunan Raja. Hal ini tentunya setelah mendapat legitimasi tertentu. Untuk mendapatkan salah satu atau kedua konsep suksesi ini, pelbagai cara dilakukan, salah satunya dengan cara berperang. Tak pelak,  peristiwa suksesi di tanah Jawa selalu berdarah.

Konsep wahyu mulanya turun kepada seseorang atau satu keluarga sebagai “anugrah” bagi masyarakat. Namun, lama kelamaan wahyu dapat memudar atau pindah ketangan yang lain. Alih-alih susah mendapat legitimasi, sesorang yang menerimanya dapat dengan mudah menjadi Raja. Bahkan, putra mahkota pun tidak berdaya dihadapan penerima “wahyu” ini. Seseorang yang diramal dan mendapat wahyu, akan dengan mudah menggalang pasukan dan mendapat simpati dari rakyat.

Dengan adanya kepercayaan akan wahyu yang bisa hilang, pihak oposisi yang berkepentingan akan memanfaatkan segala situasi untuk membuat “wahyu”-nya sendiri. Pastinya masyarakat akan sangat mudah menerimanya, apalagi jika pihak yang berkuasa telah dicap buruk. Dalam sejarah, pihak oposisi bukan melulu orang lain bagi raja. Seringkali, oposisi adalah kerabat Raja. Sebuah kekuasaan yang dapat bertahan lama, bukan malah membuat sang Raja menjadi kuat dalam hal mempertahankan kekuasaannya. Dalam fase akhir, sang Raja harus menghadapi serangan demi serangan dari kerabat hingga puteranya sendiri.

Dalam sejarah Mataram Islam saja, banyak terdapat peristiwa suksesi berdarah. Contohnya usaha mempertahankan kekuasaan ala Amangkurat I. Sepeninggal kakeknya (Sultan Agung), Amangkurat I mempertahankan kekuasaannya dengan cara membunuh para oposisinya, tak terkecuali adiknya sendiri (Pangeran Alit). Bahkan para penasehat tua bekas kakeknya dan para ulama yang tidak sependapat dengan konsep agamanya, tak luput dari keberingasannya. Korban akibat kehendak ini mencapai 5000 hingga 6000 jiwa. Tak heran, Amangkurat I dikatakan sebagai Raja terkejam dalam sejarah Jawa.

Rupanya sistem teror ini menciptakan wahyu baru, tentu ini merupakan legitimasi tokoh masyarakat. Tokoh oposisi masyarakat ini dikenal dengan Panembahan Rama. Dia merupakan keturunan Sunan Tembayat yang masyhur. Dia juga terkenal sakti dan mampu meramal masa depan.

Dengan memanfaatkan kredo masyarakat tentang kemampuannya ini, Panembahan Rama berkehendak Trunojoyo cucunya untuk mendapat wahyu kedaton. Tentunya dengan sementara menggandeng sang putra mahkota. Dengan menggandeng pasukan Bugis di Jawa, Trunojoyo dapat menggulingkan Amangkurat I dari tampuk kepemimpinannya. Meski suatu saat, Amangkurat berhasil merebut takhta ayahnya dengan bantuan VOC.

Tak hanya melulu soal hasrat berkuasa. Suksesi juga bisa muncul karena hipokrisi sang raja. Sunan Pakubuwono II (Raja Kartasura ke-lima) pada mulanya ingin memerangi VOC karena merasa kedaulatannya diinjak-injak. Pada Agustus 1741, Pakubuwono II memerintahkan kepada seluruh jajarannya untuk memihak laskar Tionghoa melawan VOC.

Namun pada awal tahun 1742, Pakubuwono II mencabut perintah sebelumnya dan memberikan perintah sebaliknya, yaitu memerangi laskar Tionghoa dan memihak kepada VOC. Hal ini berdasarkan pada rasa pesimistis Pakubuwono II terhadap ancaman VOC untuk digantikan kedudukannya oleh beberapa pangeran lain yang mengincar tahktanya.

Hal ini sontak membuat Sunan Kuning atau Amangkurat V naik pitam. Sunan Kuning berkata “Seorang Raja yang ingkar janji tidak bertuah lagi. Gebuklah dia pasti akan kabur”. Atas hipokrisi Pakubuwono II, banyak orang Jawa dan Tionghoa yang menganggapnya Raja. Nantinya, Amangkurat V berhasil meluluhlantakkan Kartasura dengan sebutan “Geger Pecinan”.

Sebetulnya masih banyak lagi contoh peristiwa suksesi yang penuh tumpah darah. Antara lain, Perang Suksesi Jawa I (Amangkurat III dan Pangeran Puger), Perang Suksesi Jawa II (Amangkurat IV dengan Pangeran Purbaya dan Pangeran Blitar), Perang Suksesi Jawa III (Pakubowono II dengan Pangeran Mangkubumi). Tentunya contoh peristiwa ini hanya secara garis besar. Terbesit dipikiran, bagaimana bisa suksesi penuh tumpah darah ini bisa terjadi, mengingat budaya Jawa yang penuh dengan pelajaran keluhuran?

Dalam pengajaran kehidupan masyarakat Jawa, suatu budaya diciptakan untuk menjadi wadah penanaman nilai-nilai keluhuran. Wayang merupakan salah satu sarananya. Kehidupan didunia ini dapat dikatakan sebagai perwujudan peperangan antara kebaikan dan kejahatan, kekacauan dan ketertiban, antara baik dan buruk, benar dan salah, keindahan dan kejelekan.

Wayang diciptakan dalam berbagai lakon (kisah) yang mengandung banyak pertentangan dalam diri manusia. Dengan dibawakan dan disampaikan oleh seorang dalang sebagai pelaku cerita tersebut, secara dialog dan gerak perbuatan yang menghidupkan tokoh wayang dan jalan cerita tersebut.

Dalam perkembangannya, wayang merupakan sarana sebagai sumber nilai hidup masyarakat Jawa. Selain itu, wayang juga merupakan pendidikan watak sekaligus mengandung nilai keluhuran disetiap jalan ceritanya. Lagi-lagi, mengapa masih terjadi hal-hal yang merugikan masyarakat dengan adanya suksesi? Mengapa masih ada Raja yang tidak meng-implementasikan konsep Manunggaling Kaula Gusti? Padahal dalam penobatan raja, sang raja harus memiliki delapan watak dewa atau dikenal dengan istilah asthabrata.

Rupa-rupanya dalam dunia pewayangan Jawa sendiri bukan hanya manusia yang melakukan praktik suksesi berdarah, melainkan juga dewa. Dikisahkan dalam lakon suksesi tahkta antara para putra Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal yang ingin melepas tahktanya untuk Khayangan Suroloyo, untuk diberikan kepada putra sulungnya yang bernama Sang Hyang Tejamaya (Sang Hyang Antaga). Namun atas fitnah anak bungsunya (Sang Hyang Manikmaya), Sang Hyang Tejamaya tidak jadi dinobatkan sebagai rajanya para dewa.

Fitnah tersebut berupa, Sang Hyang Tejamaya berebut tahkta dengan Sang Hyang Ismaya. Atas fitnah tersebut, sang ayah marah lalu menghukumnya dengan diturunkan ke dunia. Dengan begitu Sang Hyang Manikmaya dinobatkan sebagai rajanya para dewa di Khayangan Suralaya, dengan gelar Bhatara Guru. Meski berhasil menjadi Raja para dewa, tidak mengurangi rasa tamaknya terhadap saudara-saudaranya. Akibat kelakuannya, Bhatara Guru acap menerima hukuman dari Sang Hyang Podowenang (penguasa Khayangan Ondar-Andir Bawana).

Sang Hyang Tejamaya kelak menyandang nama baru yaitu Togog, dan Sang Hyang Ismaya menyandang nama Semar. Keduanya memiliki tugas yang sama, yaitu seorang pamong atau pengayom bagi raja-raja Jawa. Dikisahkan dalam lakon Sekar Tunjung Seta atau Semar Boyong, Ki lurah Semar Badranaya memberikan pesan bagi tokoh lintas pakem (Ramayana dan Mahabarata). Pesan tersebut berbunyi “kebahagian batin itu tidak bisa diukur dari banyaknya kekayaan yang dimiliki, derajat pangkat tidak bisa dijadikan ukuran ketentraman batin”.

Dalam lakon lain, pitutur atau nasehat dalam pewayangan yang seharusnya menyadarkan pada penguasa yang melenceng dari delapan watak dewa adalah “Sura dira jaya jayaningrat, lebur dening pangastuti” yang berarti Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut dan sabar. Dan tercerminkan pula dalam “Aja ketungkul marang kalungguhan, kadoyan lan kamareman”. Artinya, jangan terobsesi atau terkurung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi.

Penyebab terjadinya banyaknya perang suksesi di Jawa adalah Monarki kontra Aristokrasi. Dalam konsep kekuasaan Jawa, pemegang tampuk kepemimpinan adalah hak absolut seorang Raja yang sah. Aristokrasi kerajaan tidak berhak memberi keputusan meski seorang patih atau penasehat sekalipun. Maka semua sabda raja adalah suatu hal yang wajib untuk dilakukan, jika tidak dosa dari tuhanlah konsekuensinya. Hal ini juga memicu kalangan elit istana untuk saling merebut kekuasaan satu sama yang lain. Bahkan nilai ajaran luhur yang terkandung dalam pewayangan Jawa pun tak cukup untuk membendungnya.

Sumber:

Ham, Ong Hok. 2018. Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang. Jakarta: Gramedia.

Hardjowirogo. 1952. Sejarah Wayang Purwa. Jakarta: Balai Pustaka.

Kresna, Ardian. 2010. Semar &Togog: Yin Yang dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Narasi.

Meinsma, J. J. 1987. Babad Tanah Djawi ; de prozaversie van Ngabehi Kertapradja / voor het eerst uitgegeven door J.J. Meinsma en getranscribeerd door W.L. Olthof. Dordrecht, Holland : Foris Publication.

S. Haryanto. 1995. Bayang-Bayang Adiluhung. Semarang: Dahara Price.

0 komentar