Ketik Yang Ingin Dicari

By On
Oleh: Eka Widyaningsih
Editor: Rachmad Ganta Semendawai
Suku  Yerisiam  merupakan salah satu suku yang berada di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua, Indonesia. Kabupaten Nabire ini terletak di punggung pulau Papua dengan ibu kota . Suku Yerisiam memiliki sejarah yang cukup panjang dalam perkembangan Kabupaten Nabire. Sebelum datangnya para imigran ke Nabire, kota ini telah dihuni oleh penduduk asli. Nah, mari kita bahas asal-usul dan budaya dari suku Yerisiam tersebut.

Sejarah suku Yerisiam 
Suku Yerisiam adalah suku yang bermukim di sebelah barat Kabupaten Nabire, tepatnya Kampung Sima. Lebih jauh, suku Yerisiam mendiami pesisir barat Kabupaten Nabire. Dahulu, Yerisiam dikenal dengan nama suku Bedu atau juga Beduba. Ia juga memiliki nama lain, sebut saja suku Taribu. Tak bertahan lama, namanya pun kembali berubah menjadi Suku Girimora. Hingga akhirnya berganti nama lagi, menjadi suku Yerisiam.

Terdapat alasan sehingga suku Yerisiam ini berganti nama beberapa kali. Hal utama yang menyebabkan perubahan nama suku tersebut adalah proses akulturasi budaya dan kontak budaya dengan beberapa suku lain, khususnya dalam perang Hongi atau Raak di pesisir Nabire. Maka jangan heran dengan keberadaan suku-suku lain yang berasal dari Napan Weinami, Moor, dan Tarunggaray, yang kini dapat di temui di tanah Nabire. Dimana suku-suku dari tanah tersebut melakukan pembauran hingga menjadi satu dengan penduduk Nabire.

Suku Yerisiam berada kurang lebih sekitar 15 km dari kota Nabire. Nama suku Yerisiam mulai populer pertama kali pada tahun 1982. Kala itu Pemerintah Kabupaten Nabire mencari lahan untuk penempatan transmigran. Awalnya suku Yerisiam berasal dari Kepala Air Lagari di kampung Makimi kemudian pindah sekaligus menetap ke Puruwe dan kemudian ke arah utara daerah Kaimana serta Fakfak. Sebagian klan tetap berada di kampung Sima sampai sekarang. Hal ini menunjukkan bagaimana sifat masyarakat Nabire yang seringkali berpindah.

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat suku Yerisiam yang berdomisili di Kampung Sima adalah bahasa Yerisiam dan bahasa Yaur. Namun, dalam perkembangannya, akibat hubungan dengan masyarakat suku lain dan pernikahan politik sejak perang Hongi atau Raak, dengan tujuan mempertahankan wilayah masing-masing. Maka, bahasa Wandamen juga dipakai sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. 

Kontak pertama  suku Yerisiam dengan suku lain yang berada di Kabupaten Nabire dan sekitarnya terjadi sekitar abad 15 dan 16. Dimana saat itu terjadi Perang Budak yang mengerikan. Dalam perang tersebut, banyak terjadi pembantaian dan kanibalisme. Cukup mengejutkan mengetahui dahulu suku-suku di Nabire membawa mayat musuhnya dengan bangga dan memamerkan sebagai bentuk glorifikasi atas pencapaian telah mengalahkan lawannya. Akan tetapi, disisi lain perang ini juga mengakibatkan perkawinan politik antara suku Yerisiam dengan suku-suku lain. Seperti suku Numberi, suku Yoweni, suku Money, dan suku-suku lain yang kemudian menetap di Kampung Sima hingga saat ini.

Kehidupan Suku Yerisiam
Karena bermukim dipesisir pantai, membuat suku Yerisiam menggantungkan hidupnya kepada sumber daya alam di darat maupun di laut yang mereka tinggali. Suku Yerisiam sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan, meskipun sebagian dari mereka juga bertani. Bagi yang bermata pencaharian sebagai petani, mereka menanam sagu yang merupakan makanan pokok daerah tersebut. Tidak hanya itu, mereka juga memanen buah merah yang bisa digunakan sebagai obat dan palawija yang biasanya mereka jual di pasar.

Makanan pokok masyarakat suku Yerisiam ialah sagu. Sagu yang mereka ambil, biasanya diolah menjadi aneka hidangan seperti papeda dan kue kering yang berbahan dasar dari tepung sagu. Selain sagu, masyarakat Yerisiam juga mengunyah pinang, kapur, dan sirih yang sudah umum dikalangan masyarakat Papua. Menyigi tentang  Pinang, menurut penelitian mengunyah pinang memiliki manfaat untuk memperkuat gigi dan gusi. Pinang sendiri selalu menjadi pelengkap dalam setiap aktivitas masyarakat. Saat ingin mengobrol santai atau musyawarah, pinang selalu menjadi pembuka awal perbincangan. Anggapan mereka: “Tak ada pinang kurang mantap”. Dari anak-anak hingga lansia sangat suka mengunyah pinang. Tak heran bila gigi-gigi mereka sangat terawat.

Umumnya, buah Pinang dinikmati dengan menggunakan tepung kapur yang diolah dari cangkang kerang. Hal ini dilakukan untuk mengurangi rasa asam dan pahit dari getah pinang. Perpaduan ini membuat sensasi mengunyah buah Pinang semakin nikmat. Selain itu, batang sirih pun dipakai untuk membantu menetralkan getirnya getah pinang saat dikunyah. Buah pinang biasanya dijual dengan harga 10 ribu per plastik. Umumnya berisi 10-15 buah pinang, lengkap dengan kapur dan sirih. Hasil kunyahan dari pinang sendiri merupakan sampah organik yang tidak merusak alam. 

Lebih Jauh Tentang Gaya Hidup
Menurut Jhonas Nuboba, salah satu tokoh masyarakat kabupaten Nabire mengatakan, “Mata pencarian suku ini ialah bertani sagu dan melaut.” Ia juga turut menjelaskan bahwa karena berada di wilayah adat Saireri. Seluruh sistem adat setempat disamakan dan hanya berbeda tipis dimasing-masing suku. Pria yang telah purna tugas di kepolisian ini, juga turut membahas pakaian adat. Ia menjelaskan  laki-laki suku Yerisiam biasanya menggunakan pakaian adat bernama “Sidako” atau kulit kayu merah yang diikat di pinggang. Sedangkan untuk wanita hanya menggunakan kulit kayu yang disisir dan diikat hingga menjadi rok. 
Pakaian ini sekarang hanya digunakan pada saat acara-acara adat. Orang Yerisiam sekarang menggunakan pakaian biasa seperti yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya para wanita juga menggunakan tas tradisional dari kulit kayu yang disebut noken. Tas ini biasanya digunakan untuk mengangkut hasil kebun atau untuk mengangkat anak. Tas ini memiliki berbagai varian ukuran. Noken (tas tradisional dari Papua) yang besar biasanya digunakan di atas kepala. Harganya pun bervariasi tergantung bahan dan ukuran. Noken anggrek yang dibuat dari batang pohon anggrek memiliki harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Orang-orang Yerisiam sendiri memiliki rumah adat yang mereka sebut “Ruija”. Rumah adat ini memiliki fungsi yang sangat penting yaitu sebagai tempat musyawarah. Orang Yerisiam beranggapan apabila suatu keputusan mengenai suku yang dibahas di luar Ruija maka keputusan itu dianggap tidak sah. Ruija sendiri hanya dibuat sedikit karna fungsinya tersebut. Sedangkan orang Yerisiam membangun rumah yang lebih modern untuk kehidupan sehari-hari. Tarian adat suku-suku di Nabire disebut dengan “Yosim Pancar” yang dilakukan untuk menjamu tamu atau sebagai hiburan upacara adat. Alat musiknya berupa tifa dan tambura (alat musik yang terbuat dari kulit kerang/bia yang dimainkan dengan cara ditiup).

*Tulisan ini telah dimuat di Buletin Sanskerta edisi September 2019 

0 komentar